Back

Paten sebagai salah satu jenis dari Kekayaan Intelektual (KI) memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan dan perlindungan KI turut mendorong investasi dan pengalihan teknologi secara cepat serta merangsang daya saing masyarakat dan perusahaan setempat.

Jadi, bisa dikatakan paten bisa menjadi salah satu indikator majunya bidang teknologi di suatu negara. Semakin banyak paten yang dimiliki, maka makin maju pula teknologinya. Tidak heran jika pemegang hak paten terbanyak didominasi oleh negara-negara maju.

Negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat memiliki sumber daya alam yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia. Namun, mereka berhasil melahirkan temuan-temuan yang saat ini banyak kita gunakan. Karena walaupun mereka miskin sumber daya alam, mereka kaya akan research and development (R&D). Mereka sangat menghargai kekayaan intelektual masyarakatnya.

Paten Indonesia

Di antara maraknya hak paten yang dikuasai oleh asing, bukan  berarti Indonesia tidak memiliki hak paten. Hak paten Indonesia dimiliki oleh orang-orang hebat yang namanya sudah tidak asing lagi, sebut saja B.J. Habibie dengan temuannya yaitu teori, faktor, dan metode Habibie.

Selain itu, banyak juga orang Indonesia lainnya yang berhasil mengubah dunia berkat dengan penemuannya. Berikut ini beberapa contohnya:

Paten Konstruksi “Cakar Ayam”

Hak paten Indonesia yang mendunia salah satunya adalah konstruksi cakar ayam. Konstruksi cakar ayam adalah salah satu metode rekayasa teknik dalam pembuatan pondasi bangunan yang ditemukan oleh Prof. Dr. Ir. Sedijatmo pada tahun 1961. Teknik konstruksi cakar ayam ini memungkinkan pembangunan struktur pada tanah lunak seperti rawa-rawa. Hubungan antara pipa-pipa dengan pelat beton dibuat monolit (bersatu). Kerjasama sistem meliputi antara pelat–cakar–tanah yang menciptakan pelat yang lebih kaku dan lebih tahan terhadap beban dan pengaruh penurunan yang tidak seragam.

Penemuan ini diawali ketika Prof. Dr. Ir Sedijatmo yang kala itu menjadi salah seorang pejabat di PLN harus mendirikan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol Jakarta. Dengan proses dilakukan dengan susah payah, 2 menara berhasil didirikan dengan sistem pondasi konvensional, sementara 5 lainnya masih terbengkalai.

Karena waktunya mendesak dan sistem pondasi konvensional sangat sukar diterapkan di rawa-rawa itu, maka dicarilah sistem baru yang lahir dari ide beliau untuk mendirikan menara di atas pondasi yang terdiri dari beton yang didukung oleh pipa-pipa beton di bawahnya.

Pipa dan plat itu melekat secara monolit (bersatu), dan mencengkeram tanah lembek secara meyakinkan. Sistem pondasi cakar ayam ini telah pula dikenal di banyak negara dan telah mendapat pengakuan paten internasional di 40 negara.

Penemu Teori, Faktor, dan Metode Habibie, Teknologi di bidang Pesawat Terbang

Dari namanya saja, kita sudah tahu bahwa penemuan ini dilakukan oleh mantan Presiden Indonesia yaitu B.J. Habibie. Habibie adalah seseorang dengan berbagai julukan, salah satunya yaitu Mr. Crack.

Julukan Mr. Crack ini diberikan oleh kalangan ilmuwan karena B.J. Habibie adalah orang pertama di dunia yang menunjukkan cara bagaimana menghitung keretakan pesawat hingga ke tingkat atom-atomnya (crack propagation on random)

Kecemerlangan Habibie dibuktikian dengan berbagai penemuannya di bidang konstruksi pesawat terbang yang diabadikan dengan nama “Teori Habibie, Faktor Habibie, dan Metode Habibie.”

Hak Paten Alat Pemindai (ECVT) 4 Dimensi

Warsito adalah orang yang mengembangkan teknologi pemindai atau Electrical Capacitance Volume Tomography (ECTV) 4 dimensi pertama di dunia. Warsito sebagai pemilik paten dari ECVT ini didaftarkan di dokumen paten Amerika Serikat (AS)

Pengembangan Bahan Bakar dari Membran Sel

Seseorang di balik pengembangan membran sel bahan bakar ini adalah Eniya Listiani Dewi seorang peneliti pada Pusat Teknologi Material, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dilansir dari situs Good News from Indonesia, hasil risetnya dipublikasikan di delapan jurnal internasional dalam waktu tiga tahun. Temuan tersebut lantas diakui dunia. Teknologi sel bahan bakar merupakan sumber energi alternatif penghasil listrik yang ramah lingkungan. Cara kerjanya, mereaksikan gas hidrogen dengan oksigen berdasar prinsip elektrokimia. Hasilnya adalah listrik, panas, dan air murni. Tanpa suara, tanpa emisi, layaknya baterai atau aki. Fuel cell memang tidak meninggalkan emisi.

Dalam pengembangan riset membran sell pernah juga mengembangkan bahan carbon dan plat untuk bahan fuel cell. sepanjang tahun 2005-2008 penelitian tersebut bekerjasama dengan beberapa institusi kampus terkenal di Indonesia seperti UI dan UGM.

Teknik Sosrobahu

Pada tahun 1980-an, Jakarta sudah mengalami kendala kemacetan lalu lintas, sehingga membangun banyak jalan layang dianggap sebagai salah satu solusi meningkatkan infrastruktur lalu lintas.

PT Hutama Karya sebagai kontraktor pada saat itu mendapatkan order untuk membangun jalan raya di atas by pass Jalan A. Yani, dimana pembangunannya harus memastikan bahwa jalan itu harus tetap berfungsi.

Kemudian, Tjokorda Raka Sukawati mengajukan gagasan berupa teknik konstruksi yang digunakan terutama untuk memutar bahu lengan beton jalan layang. Dengan teknik ini, lengan jalan layang diletakkan sejajar dengan jalan di bawahnya, dan kemudian diputar 90 derajat sehingga pembangunannya tidak mengganggu arus lalu lintas di jalanan di bawahnya.

Teknik konstruksi ini dinamakan Teknologi Sosrobahu yang diberikan oleh Presiden Soeharto yang diambil dari nama tokoh cerita sisipan Mahabharata. Hak paten dari teknologi ini diterima dari pemerintah Jepang, Malaysia, dan Filipina. Di Indonesia sendiri, paten ini dikeluarkan oleh Dirjan Hak Cipta Paten dan Merek pada tahun 1995.

Kontainer Limbah Nuklir

Teknologi kontainer nuklir ini pertama kali ditemukan oleh Dr. Ir. Yudi Utomo Imardjoko seorang peneliti dan ketua jurusan teknik nuklir, fakultas teknik, Universitas Gadjah Mada bersama lima koleganya.

Awal mula pembuatan limbah nuklir ini dilatar belakangi oleh tender yang diadakan oleh pemerintah Amerika pada tahun 2005 karena limbah yang disimpan di gudang semakin mengkhawatirkan yang disebabkan semakin meningkatnya limbah dari tahun ke tahun. Oleh karena itu pemerintah Amerika membuat tender ini agar limbah dapat dimanfaatkan menjadi barang yang lebih berguna, yaitu kontainer.

Salah satu syarat yang harus dipenuhi agar rancangan kontainer bisa diterima yaitu harus tahan selama 10.000 tahun yang berbentuk silinder berbahan titanium. Diameternya 1,6 meter dengan panjang 4 meter. Sedangkan dindingnya setebal 24 sentimeter.

Pemikiran Yudi didasari pada kemungkinan penanganan limbah radioaktif nuklir dari uraian uranium dan plutonium yang mempu menyimpan limbah nuklir sampai 10 ribu tahun. Walaupun penemuan ini telah mendapatkan hak paten di Indonesia dan Amerika, tetapi temuan Yudi tersebut belum terpakai hingga saat ini karena Indonesia belum memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir.

Hak paten Indonesia memang tertinggal jauh dari negara-negara lainnya. Di Asia Tenggara sendiri, jumlah hak paten Indonesia masih kalah dengan Malaysia dan Filipina. Namun, bukan berarti Indonesia tidak memiliki hak paten yang bisa dibanggakan. Beberapa ilmuan Indonesia di atas telah membuktikan bahwa Indonesia juga memiliki kemampuan untuk melahirkan berbagai temuan.

Demikianlah ulasan mengenai paten Indonesia yang mendunia, semoga semakin banyak orang Indonesia yang memiliki hak paten dalam beberapa tahun mendatang.

Post a Comment