Back

Kekayaan intelektual apapun jika dikembangkan dengan baik akan sangat bermanfaat dan memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama paten karena memiliki peranan yang sangat besar bagi pembangunan nasional khususnya di sektor industri.

Secara historis, peraturan perundang-undangan di bidang Kekayaan Intelektual (KI) di Indonesia telah ada sejak tahun 1840-an di bawah pemerintahan Kolonial Belanda. Pada tahun 1920, Pemerintah Belanda mengundangkan UU Paten, tetapi pada saat itu permohonan paten dapat diajukan di kantor paten yang berada di Batavia (sekarang Jakarta), namun pemeriksaan atas permohonan paten tersebut harus dilakukan di Octrooiraad yang berada di Belanda.

Pada tahun 1953, Menteri Kehakiman RI mengeluarkan pengumuman yang merupakan perangkat peraturan nasional pertama yang mengatur tentang paten, yaitu Pengumuman Menteri Kehakiman No. J.S. 5/41/4, yang mengatur tentang pengajuan semetara permintaan paten dalam negeri, dan Pengumuman Menteri Kehakiman No. J.G. 1/2/17 yang mengatur tentang pengajuan sementara permintaan paten luar negeri.

Tahun 1986 dapat disebut sebagai awal era modern sistem HKI di tanah air. Pada tanggal 23 Juli 1986, Presiden RI kala itu Soeharto, membentuk sebuah tim khusus di bidang KI melalui Keputusan No. 34/1986 (tim ini lebih dikenal dengan sebutan Tim Keppres 34).

Tim Keppres 34 selanjutnya membuat sejumlah terobosan, antara lain dengan mengambil inisiatif baru dalam menangani perdebatan nasional tentang perlunya sistem paten di tanah air. Setelah Tim Keppres 34 merevisi kembali RUU Paten yang telah diselesaikan pada tahun 1982, akhirnya pada tahun 1989 Pemerintah mengesahkan UU Paten.

Pada tanggal 13 Oktober 1989 Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui RUU tentang Paten, yang selanjutnya disahkan menjadi UU No. 6 tahun 1989 (UU Paten 1989) oleh Presiden RI pada tanggal 1 November 1989. UU Paten 1989 mulai berlaku tanggal 1 Agustus 1991.

Pada tahun 2001 Pemerintah Indonesia mengesahkan UU No. 14 tahun 2001 tentang Paten, UU ini menggantikan UU yang lama di bidang terkait. Dan saat ini, paten Indonesia dilindungi di bawah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2016.

Hak Paten Indonesia

Melihat hak paten Indonesia memiliki perjalanan yang sangat panjang, lantas bagaimana perkembangan paten Indonesia hingga saat ini?

Dilansir dari Republika, Indonesia dinilai perlu memiliki target inovasi paten yang lebih agresif, karena saat ini sebagian besar hak paten yang ada di Indonesia merupakan milik asing. Saat ini berada pada urutan ke-87 dalam Indeks Inovasi Global. Jauh tertinggal dibanding Malaysia yang berada di urutan ke-37 dan Vietnam di urutan ke-47.

Sementara, jika dilihat dari jumlah paten, Indonesia berada di urutan ke-103 dari 127 negara. Padahal, berdasarkan riset yang dilakukan Institute for Development Economics and Finance (Indef), ada korelasi yang kuat antara paten dan pertumbuhan ekonomi.

Lebih lanjut, berdasarkan data statistik yang dimiliki Kementerian Hukum dan HAM, jumlah permohonan paten dalam negeri di Indonesia pada 2016 hanya 1.470. Sementara, jumlah permohonan paten dari luar negeri yang didaftarkan di Indonesia di tahun yang sama jumlahnya 7.766 paten. Statistik ini mengindikasikan bahwa pasar domestik Indonesia saat ini, terutama untuk produk-produk teknologi, masih dikuasai asing.

Kita bahkan mengetahui bahwa produk-produk dari Asia seperti Jepang dan Korea Selatan sangat agresif memasuki pasar Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan dari produk gadget, elektronik, maupun kendaraan bermotor produk Jepang dan Korea Selatan mendominasi pasar Indonesia.

Mengapa bisa demikian? Karena negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan bisa dikatakan miskin Sumber Daya Alam (SDA) namun mereka memberikan porsi yang besar dalam hal Research and Development (R&D). Hal ini berbeda dengan Indonesia yang memiliki SDA yang sangat berlimpah namun masih minimnya kegiatan R&D.

Peran Perguruan Tinggi

Mengapa hak paten Indonesia masih dikuasai asing, sementara hasil riset perguruan tinggi sebenarnya melimpah?

Seperti diketahui, pendidikan tinggi memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing negara karena menyediakan keterampilan dan penelitian untuk mengembangkan teknologi baru. Selain itu memiliki penelitian yang berkualitas merupakan wadah dari lahirnya ide-ide yang menghasilkan pengetahuan dan inovasi teknologi.

Indonesia sendiri sebagai negara berkembang membutuhkan lebih banyak lagi inovasi-inovasi di bidang teknologi guna mendukung peningkatan teknologi itu sendiri. Sebagai negara yang sedang dalam proses membangun infrastruktur, peran perguruan tinggi ini sangat dibutuhkan.

Baru-baru ini mahasiswa Universitas Brawijaya menemukan alat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi dengan menerapkan teknologi sonic bloom. Seperti dilansir dari Okezone, teknologi sonic bloom merupakan teknologi yang memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi 3.500-5.000 Hz untuk merangsang pembukaan stomata secara optimal. Dengan pembukaan stomata yang optimal akan memaksimalkan penyerapan nutrisi pada padi saat dilakukan pemberian pupuk misalnya pupuk daun.

Selain itu, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Industri Universitas Mercu Buana (UMB) memamerkan dua karya inovasi produknya, yaitu, Auto Wheel Lock Unit atau pengganjal roda otomatis dan Automatic Clutch Unit atau kopling otomatis. Proyek pengganjal otomatis diciptakan untuk roda truk dan bus. Yaitu melihat fakta betapa repotnya seorang kenek bus atau truk ketika kendaraan berada di jalan yang menanjak.

Alat ini juga bisa disetel manual jika sopir menginginkannya dan dipakai untuk tambahan atau memodifikasi mobil kopling manual menjadi otomatis. Dengan hak paten yang sudah terdaftar di Dirjen Haki Kemenkumham, maka jika ada perusahaan yang menggunakannya maka mahasiswa mendapatkan royalti.

Perguruan tinggi dalam negeri sebenarnya memiliki banyak sekali hasil riset namun belum sepenuhnya diterapkan dalam industri. Padahal, inovasi-inovasi itu sangat bermanfaat untuk mendorong industri dalam merancang produk agar dapat berkompetisi dalam skala global. Hal ini disebabkan karena minimnya informasi mengenai hasil riset itu sendiri. Pada akhirnya, hasil riset perguruan tinggi itu hanya tersusun rapi di perpustakaan. Padahal, jika hasil riset itu dipatenkan dan dikomersialkan akan mendulang banyak keuntungan.

Kita juga sudah tahu bahwa salah satu indikator keberhasilan riset di suatu negara dapat dilihat dari jumlah paten yang dihasilkan. Dilansir dari LIPI, jumlah paten yang tercatat hingga Februari 2017 ini mencapai 513 paten yang merupakan penghasil paten tertinggi di Indonesia, dengan detail: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejumlah 172 paten, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebanyak 133 paten, Kementerian Pertanian RI sejumlah 210 paten, Institut Pertanian Bogor (IPB) sebanyak 231 paten, Universitas Indonesia (UI) sejumlah 172 paten, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) sebanyak 170 paten.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Institute for Development Economics and Finance (Indef) menyatakan antara paten dan pertumbuhan ekonomi memiliki korelasi yang sangat kuat. Setiap 1 persen kenaikan jumlah paten saja bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0.06 persen.

Memiliki hak paten memang menggiurkan karena bisa mendulang keuntungan yang sangat besar. Namun untuk memiliki paten, dibutuhkan inovasi-inovasi yang tiada henti. Jadi, sudah siapkah Anda menjadi inovator selanjutnya?

Post a Comment