Back

Inovasi merupakan segala temuan yang bersifat inovatif dengan daya perubahan atau pembaharuan. Inovasi diciptakan oleh para penemunya dengan mencurahkan segala ide, kreativitas, tenaga, serta waktu guna menghasilkan suatu temuan yang kelak bisa digunakan dan bermanfaat bagi manusia.

Kita hidup di dunia yang dipenuhi oleh berbagai macam teknologi. Teknologi yang diciptakan manusia seakan terus berlanjut, tapi pernahkah Anda berpikir dari mana datangnya inspirasi para ilmuwan sehingga bisa menciptakan teknologi berupa alat ataupun benda yang saat ini kita gunakan sehari-hari? Atau tahukah Anda bahwa inovasi-inovasi tersebut banyak yang terinspirasi dari kisah fiksi?

Memang inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk kisah fiksi yang dikenal memiliki alat- alat canggih yang terkadang melebihi pemikiran akal sehat kita. Kisah fiksi ini bisa datang dari film, novel, atau buku yang berhasil meramalkan teknologi yang akan ada di masa depan. Teknologi sendiri bagaikan sesuatu yang memberi sentuhan berbeda di setiap karya film.

Kita juga kerap beranggapan bahwa teknologi yang ada dalam film terasa mustahil jika direalisasikan di kehidupan nyata. Tapi siapa sangka, ternyata banyak inovasi yang diciptakan karena terinspirasi dari sebuah kisah fiksi. Berikut ini beberapa inovasi dari kisah fiksi yang berhasil diciptakan dan digunakan di kehidupan sehari-hari:

Sepatu yang bisa Mengikat Tali – Back to the Future Part II (1989)

(Sumber: Nike)

(Sumber: Universal Pictures)

Beberapa tahun yang lalu, Nike mengeluarkan sepatu yang bisa mengikat tali sendiri. Sepatu ini terinspirasi dari film Back to the Future Part II yang muncul di tahun 80-an, di mana tokoh Marty dalam film ini pergi ke masa depan, tepatnya tanggal 21 Oktober 2015, dengan menggunakan Nike High Top yang secara otomatis dapat mengencangkan talinya sendiri dan menyesuaikan dengan ukuran kaki. Teknologi ini kemudian dinamakan power lace. Sepatu ini tidak menggunakan tali pada umumnya, tapi menggunakan sejenis penarik yang ditenagai oleh baterai dari pangkal sepatu. Ketika pemakai sepatu menggunakan dan menginjak bagian dalam sepatu, terdapat semacam sensor yang mampu menganalisa berat badan dan posisi kaki pengguna. Saat sensor telah membaca posisi kaki maka penarik tadi akan bekerja yang seolah-olah mengikat tali sepatu. Pengguna juga bisa mengatur kencangnya ikatan tali dengan menggunakan tombol yang ada di bagian kiri sepatu.

Komputer Tablet – 2001: A Space Odyssey (1968)

(Sumber: Apple)

(Sumber: MGM)

Di film yang dirilis pada tahun 1968 ini, ada banyak gadget futuristik yang ditampilkan. Meski banyak yang belum terwujud, komputer tablet yang digunakan oleh astronot utama di film ini ketika sedang melakukan pemeriksaan diagnostik pada pesawat ruang angkasa sudah menjadi teknologi umum yang kita gunakan sehari-hari. Sutradara Stanley Kubrick dinilai akurat dalam memprediksi periode waktu ketika alat ini mulai diciptakan dan digunakan oleh manusia. Kebetulan yang aneh, tenggat waktu sembilan tahun seperti yang ada di film fiksi ini, komputer tablet pertama muncul di pasaran pada tahun 2010.

QuickTime – Star Trek: The Next Generation (1987-1994)

(Sumber: Apple)

(Sumber: CBS)

Steve Periman, penemu software QuickTime terinspirasi dari serial televisi Star Trek: The Next Generation. Setelah menonton serial tersebut, Steve menyatakan bahwa ia mendapat ide untuk membuat terobosan baru di bidang multimedia. Inspirasi ini didapatnya setelah ia menonton salah satu episode serial ini, yang mana salah satu karakternya sedang mendengarkan musik yang beragam di komputernya.

Virtual Reality – The Matrix (1999)

(Sumber: flickr/Jonas Tana)

(Sumber: Warner Bros.)

Virtual reality (VR) banyak digunakan untuk berbagai keperluan, terutama di dunia hiburan. VR bisa membuat seseorang menyaksikan dunia rekaan yang seolah-olah seperti dunia nyata dan memberikan pengalaman yang sesuai dengan gerakan penggunanya. Siapa sangka ternyata teknologi ini terinspirasi dari film The Matrix yang tayang hampir 2 dekade silam. VR sendiri merupakan sebuah headset yang dilengkapi juga dengan sebuah layar. Layar ini akan membuat siapapun yang menggunakannya masuk ke dalam dunia virtual, seperti halnya gamer yang akan merasakan dunia game ketika menggunakan alat tersebut.

Goblet of Fire – Harry Potter and the Goblet of Fire (2005)

(Sumber: Foodbeast)

(Sumber: Warner Bros.)

Di dunia kuliner ada Goblet of Fire yang terinspirasi dari film keempat Harry Potter yang berjudul sama. Minuman ini dipresentasikan seperti cawan yang mengeluarkan api. Uniknya, api yang keluar merupakan api sungguhan yang disulut dengan alkohol. Minuman ini tersedia di sebuah kafe di Singapura yang dibuat dengan campuran blue curacao liquor, Bacardi 151, dan bubuk kayu manis. Api dibuat menyala dengan menggunakan Bacardi yang sebelumnya disajikan dalam sendok keramik. Setelah api muncul, barulah alkohol dituangkan dalam blue curacao. Kemudian, bubuk kayu manis ditaburkan secara alami, menghadirkan percikan mencengangkan.

Siapa sangka bahwa teknologi yang ada dalam kisah fiksi pun bisa diciptakan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun teknologi yang diciptakan terinspirasi dari sebuah kisah fiksi, namun tetap disebut dengan inovasi, karena sang pencipta telah mengeluarkan ide dan kemudian berupaya untuk melahirkan teknologi-teknologi yang ada dalam kisah fiksi menjadi nyata.

Kunci dari segala yang ada saat ini tidak luput dari peran orang-orang yang selalu berinovasi untuk menciptakan sesuatu yang bisa berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Inovasi yang mampu membawa dampak positif bagi kelangsungan hidup ini tidak hanya bermanfaat bagi banyak orang tetapi juga sang penemu.

Tidak hanya dikenal sebagai seseorang yang sudah menciptakan inovasi yang berguna, sang inovator juga mendapatkan penghargaan berupa perlindungan hukum atas segala bentuk temuannya. Temuan ini pun pada akhirnya memiliki nilai ekonomis dan karena dilindungi oleh hukum maka bagi siapapun yang menggunakan suatu temuan tanpa seizin dari penemunya akan mendapatkan sanksi hukum yang telah ditetapkan. Ayo berinovasi!

Post a Comment